Senin, 09 Juli 2012

KONSERVASI ARSITEKTUR

      
 BENTENG FORT DE KOCK

             Benteng FORT DE KOCK adalah benteng peninggalan Belanda yang berada di kota Bukitinggi, Sumbar. Benteng ini juga dekat dengan bangunan Jam Gadang, jadi saya membahas keduanya.

 Gerbang benteng Fort de Kock

Sejarah bangunan,
            Benteng Fort de Kock digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837. .Semasa pemerintahan Be­lan­da, Bukittinggi dijadikan sebagai salah satu pusat peme­rintahan, kota ini disebut sebagai Gemetelyk Resort pada tahun 1828. Sejak tahun 1825 pemerintah koloial Belan­da telah mendirikan sebuah benteng di kota ini sebagai tempat pertahanan, yang hingga kini para wisatawan dapat melihat langsung benteng tersebut yaitu Fort de Kock. Selain itu, kota ini tak hanya dijadikan sebagai pusat peme­rintahan dan tempat pertahanan bagi pemerintah kolonial Belanda, namun juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan para opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya.

             Fort de Kock juga diba­ngun sebagai lambang bahwa Kolonial Belanda telah berhasil menduduki daerah di Sumatera Barat. Benteng tersebut meru­pakan tanda penjajahan dan perluasan kekuasaan Belanda terhadap Bukittinggi, Agam, dan Pasaman. Belanda memang cerdik untuk menduduki Su­ma­tera Barat, mereka meman­faatkan konflik intern saat itu, yaitu konflik yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok agama. Bahkan Belanda sendiri ikut membantu kelompok adat, guna menekan kelompok aga­ma selama Perang Paderi yang berlangsung 1821 hingga tahun 1837.

             Belanda yang membantu kaum adat melahirkan sebuah kesepakatan bahwa Belanda diperbolehkan membangun basis pertahan militer yang dibangun Kaptain Bauer di puncak Bukit Jirek Hill, yang kemudian diberi nama Fort de Kock.

             Setelah membangun di Bukit Jirek, Pemerintah Kolo­nial Belanda pun melanjutkan rencananyamengambil alih beberapa bukit lagi seperti Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malam­bung. Di daerah tersebut juga dibangun gedung perkantoran, rumah dinas pemerintah, kom­pleks pemakaman, pasar, sarana transportasi, sekolah juga tempat rekreasi. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Kolonial Belanda tersebut dalam istilah Minangkabau dikenal dengan “tajua nagari ka Bulando” yang berarti Terjual negeri pada Belanda. Di masa itu memang, Kolonial Belanda menguasai 75 persen wilayah dari lima desa yang dijadikan pusat perdagangan.

Deskripsi bangunan,
              Kawasan benteng Fort de Kock kini berubah menjadi Taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park) sejak direnovasi pada tahun 2002. Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih ada sebagai bangunan bercat pitih hijau setinggi 20 m. Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya. Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak. 

              Benteng ini berada di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukittinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk sedangkan kawasan kebun binatang dan museum berbentuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan. Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya dalam kota Bukit Tinggi. Kawasan ini hanya terletak 1 km dari pusat kota Bukittinggi di kawasan Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh.

Secara kasat mata bangunan ini dapat dilihat sebagai arsitektur yang menggabungkan arsitektur lama kolonial milik Belanda dan arsitektur tradisional dari adat Minang Kabau.

Gambar ilustrasi benteng pada masa kolonial






 Gambar benteng setelah direnovasi


JAM GADANG
 
              
Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumbar, yang areanya juga berdekatan dengan kawasan benteng Fort de Kock. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minang Kabau yang berarti "jam besar".
            
             Selain sebagai penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.

Sejarah bangunan, 
            Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang kota Bukittinggi ) pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazin Sutan Gigi Ameh, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.
            Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda dan juga titik nol kota Bukittinggi.
            Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam penduduk Jepang diubah menjadi bentuk klenteng. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau.
            Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi dan kedutaan besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010.

Struktur Bangunan,
             Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007.
             Terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan secara mekanik oleh mesin Big Ben di London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892. yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan
            Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih. Keunikan dari Jam Gadang sendiri adalah pada kesalahan penulisan Angka Romawi empat (IV) pada masing-masing jam yang tertulis "IIII". Kesahalan penulisan tersebut juga sering terjadi di belahan dunia, seperti angka 9 yang ditulis "VIIII" (seharusnya IX) ataupun angka 28 yang ditulis "XXIIX" (seharusnya XXVIII).
Deskripsi kawasan daerah,
             Di kawasan ini ditanam sejumlah pohon sehingga makin terasa rindang. Pemerintah daerah juga melengkapinya dengan kursi-kursi beton untuk bersantai. Taman ini selalu ramai, mulai pagi, siang, sore hingga malam hari. Tua muda selalu memanfaatkan kawasan ini untuk bersantai. Bahkan, banyak orang tua muda membawa putra-putrinya bermain di tempat ini pada sore hari.
             Di kawasan ini juga tersedia andong atau sado yang disebut Bendi untuk berkeliling-keliling di kawasan pusat kota. Di dekatnya, terdapat pula Pasar Atas yang merupakan pusat perdagangan di Bukittinggi. Jam Gadang biasanya menjadi sentra para wisatawan sebelum beranjak ke obyek wisata lainnya. Memilih beberapa penginapan yang berserakan di sekitar kawasan Jam Gadang juga dapat menjadi pilihan jika ingin secara leluasa melihat jam ini berpose pada waktu terang ataupun gelap, yaitu di sepanjang Jalan Laras Dt. Bandaro-jalan Soekarno Hatta-Jalan Dr. A. Rivai-Jalan Jenderal Sudirman.jika datang ke kawasan ini tanpa kamera, pengunjung dapat memanfaatkan jasa fotografer keliling untuk mengabadikan diri dengan latar belakang Jam Gadang. Jam ini juga sangat dekat dengan kawasan taman Bung Hatta.  







sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_de_Kock
http://bloggersetu.blogspot.com/2011/01/sejarah-berdirinya-jam-gadang-padang.html
http://fotopurwoko.blogspot.com/2010/11/benteng-fort-de-kock-bukittinggi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Jam_Gadang
http://travel.kompas.com/read/2009/03/19/07532046/jam.gadang.gengsi.kota.bukittinggi

Senin, 20 Februari 2012

DESIGN ARCHITECTURE STUDIO 6TH

CHINESE CULTURAL CENTRE of KELAPA GADING

Description :
This project is take on North Jakarta, which is to build the cultural centre. Chinese choosen as  Demography issues ( almost people was chinese or tiong hua ).






Minggu, 05 Februari 2012

DA VINCI PENTHOUSE





Da Vinci Penthouse merupakan sebuah apartemen yang berada di jln Jendral Sudirman, Jakarta pusat. Bangunan ini merupakan bangunan tertinggi ketiga di Indonesia. Apartemen ini memiliki fasilitas antara lain gimnasium, lapangan tennis, perpustakaan dan ruang pertemuan.

Secara tampak bangunan ini sangat kental dengan unsur ornamen yang melekat pada tiap elemen bangunan, baik kolom, dinding dan juga atap. Pada malam hari bangunan ini terlihat sangat menakutkan dengan lampu - lampu up light yang menyoroti patung - patung pada dinding.Patung - patung yang terdiri dari patung lelaki dan wanita yang terbalut kain, ukuran yang sama dengan orang eropa.  Kolom pada area drop off dibuat besar sehingga badan kolom berkesan kokoh dan tinggi, sementara pada kolom di pojok podium terdapat 4 kolom yang ornamental memberikan kesan ionik. Jendela yang dibuat besar serta terdapat aksen segitiga seperti parthenon pada bangunan yunani. Finishing material memberikan kesan batu yang keras. Pada bagian tower, tampak yang gelap karena hanya sebagian lampu yang menyala. Kondisi di bangunan ini nampak sangat sunyi dan remang. Pada podium terlihat ornamen lingkaran yang besar dengan grid - grid pembentuknya dan juga terlihat lampu berwarna biru yang tertulis "Da Vinci". Dan dibawah gambar tersebut tedapat gambar proporsi ukuran ( Da Vinci ).

Kesan yang timbul pada bangunan ini adalah suasana klasik arsitektur di eropa ( Yunani dan Roma ), namun dengan suasana yang sunyi membuat bangunan ini menjadi menakutkan, seperti bangunan berhatu / kastil - kastil tempat bermarkasnya para vampir. Namun apartemen ini merupakan aprtemen dengan kategori 'luxury'.

Minggu, 04 Desember 2011

MARI BERBAGI


                 Pasar merupakan suatu tempat bertemunya antara penjual dan pembeli bertransaksi tukar barang sesuai perjanjian.



                Namun pada saat sekarang ini, dimana pun bisa menjadi pasar. Pada ilustrasi diatas, terlihat lalu lalang baik kendaraan maupun manusia. Ada kegiatan berbelanja, namun tempat ini bukanlah pasar. Jalanan dengan arus kendaraan yang padat, namun ada banyak barang dagangan????
                Apakah sudah tidak ada tempat lagi bagi pedagang tradisional, sehingga harus memenuhi bahu jalan hingga membuat kemacetan. Padahal tepat di depannya berdiri sebuah mal yang modern yang seolah menutup sebelah mata. 
                Haduuh...sungguh keadaan yang miris keadaannya, antara kotor dan bersih.       

Selasa, 29 November 2011

KAMPUSKU TERMINALKU


        Kampusku yang terletak di kawasan Depok,,, ya kampus Gunadarma. Banyak orang yang menjuluki kampusku ini ; mulai dari kampus anak komputer, kampus Gundar dan kampus se-juta umat.

        Yup, dengan banyaknya program studi yang ditawarkan oleh yayasan menjadikan kampus ini sebagai alternatif mahasiswa untuk meneruskan pendidikannya.. Terasa bahwa semakin lama mahasiswa di kampus ini semakin padat.  ( so what the relationship of those statement ....? )

         Pada jam - jam tertentu kampusku ini menjadi bertambah fungsi,,, ayo lihat gambar ilustrasi di bawah ini !





              Nah lo... kok,,, jadi tempat angkot - angkot pada ngetem....? ( tanya kenapa...??? )
Inilah kenyataan yang terjadi di lapangan,, angkot ini menunggu penumpang dari kampus se- juta umat. Tapi karena berbagai alasan si supir angkot ini mengabaikan pengguna jalan yang lainnya. Si angkot berhenti di depan pintu gerbang, terus berjejeran di jalan akibatnya jalan jadi sempit dan akhirnya jalanpun " MACET ", daerah disekitar angkot jadi panas sekali. ( plus kondisi depok yang sudah panas ) :(