Jumat, 08 Januari 2010

Arsitekur Jawa Timur

ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL JAWA TIMUR

Surabaya merupakan ibukota provinsi ini dengan komposisi masyarakat yang beragam. Mayoritas penduduk daerah ini adalah suku Jawa, tetapi di pulau Madura didiami oleh suku Madura. Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa adalah minoritas yang cukup signifikan dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya dan sejumlah kawasan industri lainnya. Dan juga system kekerabatan yang dianut masyarakat jawa timur adalah Patrinialisme.

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang berlaku secara nasional, namun demikian Bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar Suku Jawa. Bahasa Madura dituturkan oleh Suku Madura di Madura maupun dimanapun mereka tinggal.

Suku Jawa umumnya menganut agama Islam, sebagian menganut agama Kristen dan Katolik, dan ada pula yang menganut Hindu dan Buddha. Sebagian orang Jawa juga masih memegang teguh kepercayaan Kejawen. Agama Islam sangatlah kuat dalam memberi pengaruh pada Suku Madura. Suku Osing umumnya beragama Islam. Sedangkan Suku Tengger menganut agama Hindu. Orang Tionghoa umumnya menganut Konghucu, meski ada pula sebagian yang menganut Buddha, Kristen, dan Katolik; bahkan Masjid Cheng Ho di Surabaya dikelola oleh orang Tionghoa dan memiliki arsitektur layaknya kelenteng.

ARSITEKTUR BANGUNAN

Bentuk arsitektur di Jawa Timur umumnya mirip dengan bentuk arsitektur di Jawa Timur. Bangunan khas Jawa Timur umumnya memiliki bentuk joglo, bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep).

Bangunan yang berbentuk Joglo :






Rumah Joglo, TMII


Rumah Joglo Kudus



Rumah Joglo Lambangsari

Bangunan yang berbentuk Srontongan :

Keterangan :

Rumah serotong pada umumnya dimiliki oleh penduduk asli, sedangkan rumah joglo dahulu hanya dimiliki oleh para bangsawan serta keturunannya, juga rumah-rumah kepala desa, sehingga nampak megah dan berwibawa.

ORIENTASI, DENAH DAN TATA RUANG RUMAH ADAT :

Arah hadap rumah harus ke selatan, dengan maksud agar pemilik rumah tidak memangku G. Muria (yang terletak di sebelah utara) sehingga tidak memperberat kehidupan sehari-hari.

Tetapi beberapa sumber juga mengatakan Arah utara-selatan biasa dijumpai pada rumah rakyat kebanyakan, sedangkan arah timur-barat hanya dapat ditemukan pada rumah kerabat Kraton atau bangsawan.

Dan arah lain yang juga menjadi pedoman untuk menentukan arah rumah adalah di bagian depan menghadap himpunan air (bandaran agung) dan bagian belakang membelakangi dataran tinggi, bukit atau gunung.

4. Gandhok dan pawon.

c. Senthong tengen

b. Senthong tengah

a. Senthong kiwo

3. Dalem

2. Pringgitan

Keterangan :

1. Pendhapa

Pendopo (pendhapa) yaitu bagian depan rumah yang terbuka dan berbentuk segi empat dengan empat tiang (saka guru) yang merupakan tempat tuan rumah menyambut dan menerima tamu-tamunya. Pendhapa terbuka tanpa batas melambangkan sikap keterbukaan pemilik rumah terhadap siapa saja yang datang.

Pringgitan, ruang yang masih berfungsi sebagai ruang publik adalah ruang peralihan dari pendopo menuju ke dalem ageng dan juga berfungsi sebagai tempat mengadakan pertunjukan wayang kulit pada acara-acara tertentu.

Dalem Ageng merupakan ruang privat sebab di dalamya terdapat tiga senthong atau tiga kamar. Senthong tengah atau krobongan merupakan tempat paling suci/privat bagi penghuninya. Sedangkan senthong kiwa dan senthong tengen berfungsi sebagai ruang tidur anggota keluarga. Senthong kiwa merupakan ruang tidur anggota keluarga laki-laki dan senthong tengen berfungsi sebagai ruang tidur anggota keluarga perempuan.

Gandhok dan Pawon
Ruangan di bagian belakang dinamakan gandhok yang memanjang di sebelah kiri dan kanan pringgitan dan dalem. Juga terdapat pawon yang berfungsi sebagai dapur dan pekiwan sebagai wc/toilet. Ruangan-ruangan tersebut terpisah dari ruangan-ruangan utama, apalagi dari ruangan yang bersifat sakral/suci bagi penghuninya.

Pola organisasi ruang dalam rumah tradisi Jawa dibuat berdasarkan tingkatan atau nilai masing-masing ruang yang terurut mulai dari area publik menuju area private atau sakral. Pembagian ruang simetris dan menganut pola closed ended plan yaitu simetris keseimbangan yang berhenti dalam suatu ruang, yaitu senthong tengah

Zoning :

  1. Pendopo (pendhapa)
  2. Pringgitan
  3. Senthong

4. Gandhok dan Pawon

Sirkulasi

Alur sirkulasi mengarah dari depan ke belakang




Pondasi

Pondasi yang digunakan adalah bebatur yaitu tanah yang diratakan dan lebih tinggi dari tanah disekelilingnya. Diatas bebatur ini dipasang umpak yang sudah diberi purus wedokan. Konstruksi memiliki struktur stabil, karena hanya struktur kolom bergabung atas pondasi / umpak dengan "purus". Ada yang berbeda dengan landasan beton, jadi jika terjadi getaran, gedung ini bergoyang-goyang mengikuti gravitasi bumi. Ketika gempa datang, gedung ini tetap akan stabil karena bisa mengikuti arah gerakan gravitasi bumi, maka tidak dapat membuat struktur kolom yang patah.








  • Terdapat 4 saka guru sebagai penahan atap brunjung yang membentuk ruang pamidangan yang merupakan ruang pusat dan 12 saka pananggap yang menyangga atap pananggap( tiang pengikut), masing-masing saka ditopang oleh umpak menggunakan sistem purus
  • Memakai blandar, pengeret, sunduk, serta kilil. masing- masing blandar dan pengeret dilengkapi dengan sunduk dan kili sebagai stabilisator.
  • Menggunakan tumpang dengan 5 tingkat. Balok pertama disebut pananggap, balok ke dua disebut tumpang, balok ke tiga dan empat disebut tumpangsari, dan balok terakhir merupakan tutup kepuh yang berfungsi sebagai balok tumpuan ujung- ujung usuk atap.
  • Uleng/ruang yang terbentuk oleh balok tumpang di bawah atap ada 2 (uleng ganda)
  • Terdapat godhegan sebagai stabilisator yang biasanya berbentuk ragam hias ular-ularan.
  • Menggunakan atap sistem empyak. 4 sistem empyak yang digunakan : brunjung dan cocor pada bagian atas, serta pananggap dan penangkur di bagian bawah
  • Terdapat balok molo pada bagian paling atas yang diikat oleh kecer dan dudur.
  • Menggunakan usuk peniyung yaitu usuk yang dipasang miring atau memusat ke molo. Joglo ini juga tidak memiliki emper

Tiang

Tiang utama pada bangunan ini disebut saka guru.



Atap


Sumber :

http://www.gebyok.com/joglo.html

http://www.docstoc.com/docs/18470671/Seni-dan-Budaya-Jawa-Timur

http://ww4.yuwie.com/blog/entry.asp?id=931082&eid=595839

http://www.tamanmini.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar